Pengertian dan Unsur-unsur Pendidikan | STKIP PGRI NGANJUK
Segenap Civitas Akademik STKIP PGRI Nganjuk Mengucapkan Minal Aidzin Walfaizin, Mohon Ma'af Lahir Bathin, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H.

Senin, 13 Juli 2009

Pengertian dan Unsur-unsur Pendidikan

A. Pengertian Pendidikan

Pengertian pendidikan dibatasi oleh beberapa batasan:

1. Pendidikan sebagai Proses Transformasi Budaya
Sebagai transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain.
Nilai-nilai kebudayaan tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain, yang kurang cocok diperbaiki, misalnya tata cara pesta perkawinan, dan yang tidak cocok diganti misalnya pendidikan seks yang dahulu ditabukan diganti dengan pendidikan seks melalui pendidikan formal.

2. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi
Sebagi proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Sistematis oleh karena proses pendidikan berlangsung melalui tahap-tahap bersinambungan (prosedural) dan sistemik oleh karena berlangsung dalam semua situasi kondisi, di semua lingkungan yang saling mengisi (lingkungan rumah, sekolah, masyarakat).

3. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warga Negara
Pendidikan sebagai penyiapan warga negara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.
Bagi kita warga negara yang baik diartikan selaku pribadi yang tahu hak dan kewajiban sebagai warga negara, dan ini ditetapkan dalam UUD 1945 pasal 27 yang menyatakan bahwa segala warga negara bersamaan kehidupannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tak ada kecualinya.

4. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja
Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. Ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia.

5. Definisi Pendidikan menurut GBHN
GBHN 1988 (BP 7 Pusat, 1990: 105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pancasila serta UUD 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, dan mandiri sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

B. Tujuan dan Proses Pendidikan

1. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan memiliki dua fungsi, yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin di capai oleh segenap kegiatan pendidikan.

2. Proses Pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan.
Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Kedua segi tersebut, satu sama lain saling bergantung. Walaupun komponen-komponennya cukup baik, seperti tersedianya sarana dan prasarana serta biaya yang cukup, jika tidak ditunjang dengan pengelolaan yang handal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secara optimal.
Yang menjadi tujuan utama pengelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal.

C. Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH)

Konsep ini akan dikemukakan secara rinci karena mendasaari arah baru dunia pendidikan. Sebagai konsep yang lebih ilmiah dan sekaligus sebagai gerakan global yang merambah ke berbagai negara memang baru dirasakan pada tahun 70-an. Pada zaman nabi Muhammad Saw, 14 abad yang lampau, ide dan konsep itu telah disiarkannya dalam bentuk suatu imbauan; tuntutlah ilmu sejak dibuaian hingga ke liang lahat.

1. Beberapa alasan PSH diperlukan antara lain:
a. Alasan Keadilan
b. Alasan Ekonomi
c. Alasan Perkembangan Iptek
d. Alasan Sifat Pekerjaan

2. Implikasi Pendidikan Sepanjang Hayat
Dengan diterimanya konsep PSH sebagai konsep dasar pendidikan maka sifat kodrati pendidikan, yaitu upaya memperoleh bekal untuk mengatasi masalah hidup sepanjang hidup lebih menembus dan menjiwai penyelenggaraan semua sistem pendidikan yang ada, yang sudah melembaga maupun yang belum. Pendidikan berlangsung dari masa bayi (bina balita) sampai dengan pendidikan diri sendiri pada masa manula.

Ciri-ciri khas PSH:

a. PSH menghilangkan tembok pemisah antara sekolah dengan lingkungan kehidupan nyata di luar sekolah
b. PSH menempatkan kegiatan belajar sebagai bagian integral dari proses hidup yang berkesinambungan, sedangkan €˜bersekolah’ hanya merupaakan sebagian kecil dari keseluruhan proses belajar yang dialamai oleh seseorang selama hidupnya.
c. PSH lebih mengutamakan pembekalan sifat dan metode daripada isi pendidikan.
d. PSH menempatkan peserta didik sebagai individu yang menjadi pelaku utama dalam proses pendidikan, yang mengarah pada pendidikan diri sendiri dan yang sejalan dengan penciptaan masyarakat gemar belajar.

Disamping ciri-ciri tersebut yang menjadi alasan mengapa PSH perlu digalakkan adalah:
a. Pada hakekatnya belajar berlangsung sepanjang hidup
b. Sekolah tradisional tidak dapat memberikan bekal kerja yang caranya semakin tidak menentu dan cepat berubah.
c. Pendidikan masa balita punya peranan penting sebagai fondasi pembentukan kepribadian dan bagi aktualisasi diri.
d. Sekolah tradisional mengganggu pemerataan keadilan untuk memperoleh kesempatan berpendidikan.
e. Biaya penyelenggaraan tradisional sangat mahal

D. Kemandirian dalam Belajar 1. Arti dan Prinsip yang Melandasi

Kemandirian dalam belajar diartikan sebagai aktivitas belajar yang belajarnya lebih didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri dan tanggung jawab sendiri dari pembelajar.

2. Alasan yang Menopang

Serempak dengan perkembangan IPTEK ada beberapa alasan yang memperkuat konsep dalam kemandirian dalam belajar. Conny Semiawan, dan kawan-kawan (Conny S., 1988: 14-16) mengemukakan alasan sebagai berikut:

a. Perkembangan Iptek berlangsung semakin pesat sehingga tidak mungkin lagi para pendidik khususnya guru mengajarkan semua konsep dan fakta kepada peserta didik
b. Penemuan Iptek tidak mutlak benar 100%, sifatnya relatif.
c. Para ahli psikologi umumnya sependapat, bahwa peserta didik mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai contoh-contoh yang konkret dan wajar.
d. Dalam proses pendidikan dan pembelajaran pengembangan konsep seyogyanya tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan pemahaman nilai-nilai ke dalam diri peserta didik.

Konsep dasar kemandirian dalam belajar sebagaimana dikemukakan itu membawa implikasi kepada konsep pembelajaran, peranan pendidik khususnya guru dan peranan peserta didik.

Belajar diartikan sebagai aktivitas pengembangan diri melalui pengalaman, bertumpu pada kemampuan diri belajar di bawah bimbingan pengajar.

Mengajar diartikan sebagai aktivitas mengarahkan, memberikan kemudahan bagaimana menemukan sesuatu berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh pelajar.

E. Unsur-unsur Pendidikan Proses pendidikan melibatkan banyak hal, antara lain:

1. Subjek yang dibimbing (peserta didik)
2. Orang yang membimbing (pendidik)
3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
5. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)

F. Pendidikan sebagai Sistem 1. Pengertian Sistem

Sistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan integral dari sejumlah komponen. Komponen-komponen tersebut satu sama lain saling berpengaruh dengan fungsinya masing-masing, tetapi secara fungsi komponen-komponen itu terarah pada pencapaian satu tujuan (yaitu tujuan dari sistem)

2. Komponen dan Saling Hubungan antara Komponen dalam Sistem Pendidikan

Pendidikan sebagai sebuah sistem terdiri dari sejumlah komponen. Untuk melihat komponen sistem pendidikan, di bawah ini dikemukakan pengandaian Toffler.

Toffler (1970) menganalogikan sekolah dengan sebuah pabrik. Memang sebenarnya usaha pendidikan itu tidak dapat disamakan dengan pabrik. Tetapi jika dilihat dari segi proses mekanismenya, ada persamaan antara keduanya. Misalnya, sebuah pabrik gula yang tujuan didirikannya adalah untuk memproduksi gula. Pabrik tersebut membutuhkan bahan mentah berupa tebu ataupun bahan lainnya. Untuk memproses tebu menjadi gula sebagai keluaran diperluakan mesin-mesin penggilingan beserta perangkat peralatan lainnya (sarana dan prasarana) yang ditangani dan dikelola oleh pekerja, kepala bagian sampai dengan pimpinan pabrik (tenaga). Sudah tentu tenaga tersebut tidah asal bekerja namun sesuai dengan petunjuk-petunjuk, sistematika dan prosedur serta jadwal yang telah ditetapkan program. Di samping itu juga dilakukan pencatatan dan pendataan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan produksi (admisnistrasi).

Sarana dan prasarana, ketenagaan, program dan administrasi yang diperlukan untuk pemrosesan bahan mentah seperti dikemukakan di atas merupakan masukan instrumental (instrumental input).

Dari uraian tersebut terlihat bahwa bahwa komponen-komponen yang menunjang sistem pabrik antara lain:

a. Masukan mentah (raw input)
b. Masukan instrumental (instrumental input)
c. Masukan lingkungan (environmental input)

3. Hubungan Sistem Pendidikan dengan Sistem lain dan Perubahan Kedudukan dari Sistem

Di bagian terdahulu digambarkan faktor ekonomi, politik, sosial budaya sebagai komponen masukan lingkungan (environmental input) dari sistem pendidikan. Pada bagian ini komponen-komponen tersebut dilihat sebagai sistem yang berdiri sendiri, sederajat dengan sistem pendidikan.

4. Pemecahan Masalah Pendidikan Secara Sistematik

a. Cara Memandang Sistem
Perubahan cara memandang suatu status dari komponen menjadi sistem ataupun sebaliknya suatu sistem menjadi komponen dari sistem yang lebih besar, tidak lain daripada perubahan cara memandang ruang lingkup suatu sistem atau dengan kata lain ruang lingkup suatu permasalahan.

b. Masalah Berjenjang
Semua masalah satu sama lain saling berkaitan, dalam hubungan:
1) Sebab-akibat
2) Alternatif masalah
3) Latar belakang masalah

c. Analisis Sistem dalam Pendidikan
Penggunaan analisis sistem dalam pendidikan dimaksudkan untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan dengan cara yang efisien dan efektif.

Prinsip utama dari penggunaan analisis sistem ialah: bahwa kita dipersyaratkan untuk berpikir secara sistematik artinya kita harus memperhitungkan segenap komponen yang terlibat dalam masalah pendidikan yang akan dipecahkan.

d. Saling Hubungan Antarkomponen
Komponen-komponen yang baik menunjang terbentuknya suatu sistem yang baik. Tetapi komponen yang baik saja belum menjamin tercapainya tujuan sistem secara optimal, manakala komponen tersebut tidak berhubungan secara fungsional dengan komponen yang lain.

e. Hubungan Sistem dengan Suprasistem
Sistem pendidikan memproses masukan mentah dengan masukan instrumental sehingga menjadi keluaran yaitu tamatan. Bagaimana wujud keluaran yang dikehendaki menjadi tujuan dari sistem pendidikan. Tujuan ini memberikan arah pada kegiatan sistem yang memproses masukan mentah. Secara operasional tujuan tersebut menentukan isi dari masing-masing komponen instrumental.

5. Keterkaitan antara Pengajaran dan Pendidikan
Istilah pengajaran dapat dibedakan dari pendidikan, tetapi sulit dipisahkan. Jika dikatakan anak diajar menulis yang baik’ lebih terasa sebagai pengajaran. Tetapi jika anak dikembangkan kegemarannya untuk menulis yang baik’ maka lebih mirip pendidikan.

Jika yang dipersoalkan atau dijadikan tekanan aspek pengetahuan, disebut €˜pengajaran’, dan jika aspek pembentukan sikap menjadi tekanan disebut €˜pendidikan’.

6. Pendidikan Prajabatan (Preservice Education) dan Pendidikan dalam Jabatan (Inservice Education) sebagai Sebuah Sistem
Pendidikan prajabatan berfungsi memberikan bekal secara formal kepada calon pekerja dalam bidang tertentu dalam periode waktu tertentu. Sedangkan pendidikan dalam jabatan bermaksud memberikan bekal tambahan kepada orang-orang yang telah bekerja berupa penataran, kursus-kursus dan lain-lain.

7. Pendidikan Formal, Non-Formal, dan Informal sebagai Sebuah Sistem
Pendidikan formal (PF) yang sering disebut pendidikan persekolahan, berupa rangkaian jenjang pendidikan yang telah baku.
Pendidikan Non-Formal (PNF) sebagai mitra pendidikan formal (PF) semakin hari semakin berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat dan ketenagakerjaan.
Pendidikan Informal sebagai suatu fase pendidikan yang berada di samping dan di dalam pendidikan formal dan non-formal sangat menunjang keduanya.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan formal, non-formal dan informal, ketiganya hanya dapat dibedakan tetapi sulit dipisah-pisahkan karena keberhasilan pendidikan dalam arti terwujudnya keluaran pendidikan yang berupa sumber daya manusia sangat tergantung kepada sejauh mana ketiga subsistem tersebut berperanan

0 komentar:

Poskan Komentar