INOVASI PEMBELAJARAN: METODE BERPUSAT PADA SISWA | STKIP PGRI NGANJUK
Segenap Civitas Akademik STKIP PGRI Nganjuk Mengucapkan Minal Aidzin Walfaizin, Mohon Ma'af Lahir Bathin, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H.

Rabu, 24 Februari 2010

INOVASI PEMBELAJARAN: METODE BERPUSAT PADA SISWA

A. Pendahuluan
Era globalisasi menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam berbagai bidang, seperti bidang teknologi, manajemen dan sumberdaya manusia. Untuk mempersiapkan hal tersebut, bidang pendidikan merupakan ujung tombak yang sangat penting. Berbagai program peningakatan kualitas pendidikan telah dirancang, termasuk payung yuridis formal, dan dilaksanakan. Di antara program itu membentuk Sekolah Standar Nasional (SSN) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).
Dalam pendekatan IPO ( input-proses-output) kualitas pendidikan akan bisa dicapai jika proses berjalan dengan baik. Mengingat pentingnya hal tersebut, pemerintah mengatur hal tersebut melalui Permendiknas RI Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Permendiknas tersebut mengemukakan bahwa dalam penyusunan perencanaan proses pembelajaran setiap guru pada satuan pendidikan selain dituntut menyusun silabus juga berkewajiban menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Sementara itu dalam pelaksanaan pembelajaran yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup, guru dituntut melakukan berbagai kegiatan.
Dalam kegiatan pendahuluan, guru (1) menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, (2) mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengait¬kan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari, (3) menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, dan (4) menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
Dalam kegiatan inti yang merupakan proses pem¬belajaran untuk mencapai KD, guru perlu (1) melakukan kegiatan yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativi¬tas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik; (2) menggunakan metode yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mata pela¬jaran serta meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi; dan (3) berperan sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar, membantu menyelesaikan masalah, memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi, memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh, serta memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.
Dalam kegiatan penutup, guru (1) sendiri dan atau bersama-sama dengan peserta didik membuat rangkuman/simpulan pelajaran, (2) melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsis¬ten dan terprogram, (3) memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, dan (4) merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik.

B. Pendekatan Pembelajaran
Untuk mewujudkan proses pembelajaran sesuai dengan ketentutan-ketentuan di atas, pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan sebagai dasar pijakan di antaranya sebagai berikut.

1. Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan (PAKEM)
Sekolah dapat diibaratkan sebagai sebuah ”pabrik” yang mempoduksi sesuatu. Sebagai sebuah pabrik, sekolah menerima masukan/bahan mentah yang dalam hal ini calon siswa dengan berbagai kualitas. Calon siswa inilah yang ”diolah” melalui proses pembelajaran agar menjadi hasil/lulusan yang baik. Dengan demikian bagian proses merupakan unsur yang sangat penting dalam menentukan hasil yang baik. Bagian proses ini pula dari waktu ke waktu perlu dicermati untuk terus diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Salah satu cara untuk memperbaiki proses tersebut dengan mengembangkan dan menerapkan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM).
Berbeda dengan pabrik yang inputnya/bahan mentah adalah benda mati, sekolah memiliki input dalam hal ini siswa dengan berbagai karakteristik. Ia memiliki beberapa potensi, yakni intelegensi, daya kreativitas/imajinasi, kemampuan berbahasa, kecepatan belajar, motivasi, sikap, minat, emosi/perasan, mental, dan fisik. Untuk itu, proses pembelajaran dipandang lebih rumit dibandingkan dengan pembuatan suatu barang (dalam hal ini benda mati). Proses pembelajaran diharapkan bisa mengembangkan potensi yang dimiliki siswa.Untuk bisa mencapai keberhasilan atau output yang baik, proses pembelajaran perlu dirancang sedemikian rupa yang bisa mengaktifkan siswa, mengembangkan kreativitas mereka sehingga pembelajaran berlangsung efektif, namun tetap menyenangkan (Learning should be fun).
Proses pembelajaran merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Sehubungan dengan itu, pembelajaran perlu dikemas dengan anak mengalami langsung apa yang sedang dipelajari. Dengan cara demikian siswa akan lebih aktif melibatkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang lain/guru menjelaskan. Siswa belajar hanya 10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan didengar, 70% dari apa yang dikatakan, dan 90% dari apa yang dikatakan dan dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa jika guru dalam proses pembelajaran banyak melakukan ceramah, maka tingkat pemahaman siswa hanya 20%. Tetapi sebaliknya, jika siswa diminta untuk melakukan sesuatu sambil melaporkannya, tingkat pemahaman siswa dapat mencapai sekitar 90%. Pembelajaran yang dikemas dengan anak mengalami langsung apa yang sedang dipelajari akan menjadikan siswa aktif bertanya, bekerja, terlibat dan berpartisipasi, menemukan dan memecahkan masalah, mengemukakan gagasan, dan mempertanyakan gagasan.
Kreatif merujuk pada kemampuan untuk berpikir lebih orisinal dibandingkan kebanyakan orang lain. Siswa kreatif adalah siswa yang ”berpikir divergen”, yaitu corak berpikir yang mencari jalan-jalan baru, lebih-lebih dalam memecahkan masalah. Dalam proses pembelajaran apabila guru kreatif dalam mengembangkan kegiatan yang menarik dan beragam, membuat alat bantu belajar, memanfaatkan lingkungan belajar, mengelola kelas dan sumber belajar, merencanakan proses dan hasil belajar akan dapat membentuk siswa keatif baik dalam memecahkan masalah maupun menghasilkan karya.
Pembelajaran merupakan upaya memberikan pengalaman kepada siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi diri. Dengan kata lain, pengalaman belajar diberikan agar siswa dapat meraih kompetensi yang telah ditentukan. Untuk itu, pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan pengetahuan dan memerapkan hal-hal yang dipelajarinya. Siswa harus mampu menggunakan fakta-fakta yang sudah dipelajari untuk menjelaskan situasi atau menerapkan informasi pada situasi baru. Mereka harus mengembangkan pemikiran atau keterampilan dalam situasi baru. Selain itu, mereka juga harus dapat mengembangkan dan menerapkan sikap/nilai yang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran yang menyenangkan dapat menjadi penentu utama apakah kuantitas dan kualitas belajar yang terus berlangsung atau tidak bagi siswa. Pembelajaran yang menyenagkan bukan berarti menciptakan suasana ribut, hura-hura, nyanyi-nyanyi yang tidak berdasar, atau kemeriahan yang dangkal. Pembelajaran yang menyenangkan tercipta karena siswa merasa terlibat secara intelektual maupun emosional. Mereka menghadapi suasana membuat mereka tidak merasa terancam. Mereka tahu betapa penting dan menantangnya apa yang dipelajari, mereka memperoleh suasana yang ramah, dan mempunyai suara atau kesempatan dalam membuat keputusan. Mereka berada dalam situasi berani mencoba/berbuat, berani bertanya, berani mengemukakan pendapat/ gagasan, dan berani mempertanyakan gagasan orang lain.

2. Contextual Teachinbg and Learning (CTL)
Contextual Teachinbg and Learning (CTL) merupakan konsep pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata. Pembelajaran yang demikian dapat memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, dan sebagai tenaga kerja. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa (pembelajar) (US Departemen of Education and the National School-to Work Office, 2001).
Konsep CTL sebenarnya bukan merupakan hal baru. Konsep dasar pendekatan ini sudah diperkenalkan John Dewey sejak tahun 1916. Dia mengungkapkan bahwa kurikulum dan metodologi guruan seharusnya memiliki hubungan yang erat dengan minat dan pengalaman siswa. Proses belajar akan sangat efektif apabila pengetahuan baru itu diberikan berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Dengan kata lain, pengetahuan yang diberikan hendaknya berhubungan erat dengan pengalaman siswa sesungguhnya atau merupakan pengalaman nyata.
Pemikiran Dewey tersebut didukung Katz (1981) dan Howey & Zipher (1989). Mereka menyatakan bahwa suatu program pembelajaran bukanlah sekedar suatu kumpulan mata pelajaran, namun lebih dari itu. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun suatu program pembelajaran. Hal yang dimaksud antara lain guru harus dapat menjelaskan dan mempunyai pandangan yang sama tentang beberapa konsep dasar seperti (1) peran guru, (2) hakikat pengajaran dan pembelajaran, dan (3) misi sekolah dan masyarakat. Guru perlu menyepakati bahwa bila ketiga hal tersebut bermuara pada CTL, pembelajaran akan berhasil dengan baik. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk siswa bekerja dan mengalami bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, bagaimana status mereka, dan bagaimana mencapai hasil belajar. Siswa perlu menyadari bahwa yang mereka pelajari akan berguna bagi kehidupannya nati. Dengan begitu mereka akan memosisikan sebagai orang yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti.
Pembelajaran kontekstual pada dasarnya merupakan perpaduan antara beberapa pendekatan dan praktik keguruan yang baik yang ada sebelumnya, yakni konsep Dewey, pragmatik, komunikatif, dan konstruktivis. Penekanan CTL terletak pada cara berpikir, transfer pengetahuan lintas disiplin, pengumpulan, penganalisisan dan penyintesisan informasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan (Kasihani, 2002).
Ciri-ciri pendekatan CTL menurut Blancard (2001) sebagai berikut.
(1) Pembelajaran menekankan pada pentingnya pemecahan masalah.
(2) Pembelajaran dilakukan dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan tempat kerja.
(3) Pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk belajar mandiri.
(4) Pembelajaran yang menekankan pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda.
(5) Pembelajaran yang mendorong siswa untuk dapat belajar dari sesama teman dan belajar bersama dalam kelompok.
(6) Pembelajaran yang menggunakan penilaian autentik.

Sedangkan Center for Occupapational Research (COR) di Amerika Serikat memberikan ciri CTL dengan akronim REACT atau releting, experiencing, apllying, cooperating, and transfering yang jabarannya sebagai berikut.
(1) Relatin yaitu pembelajaran yang dihubungkan dengan konteks kehidupan nyata.
(2) Experiencing yaitu pembelajaran dilakukan dalam konteks eksplorasi, penemuan, dan penciptaan.
(3) Apllying yaitu pembelajaran dilakukan dengan memadankan pengetahuan dan kegunaannya.
(4) Cooperating yaitu pembelajaran dilakukan dalam konteks interaksi kelompok.
(5) Transfering yaitu pembelajaran dengan menggunakan pengetahuan dalam konteks baru/konteks lain.
(6) Adapun University of Washington mengidentifikasi ciri-ciri CTL sebagai berikut.
(7) Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.
(8) Pembelajaran yang menekankan pada kemampuan pembelajar untuk menerapkan pengetahuan dalam tatanan-tatanan lain.
(9) Pembelajaran yang menekankan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi atau berpikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu issu serta memecahkan suatu masalah.
(10) Pembelajaran menggunakan kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar (lokal, regional, nasional, asosiasi, dan industri)
(11) Pembelajaran yang tanggap terhadap budaya.
(12) Pembelajaran yang menggunakan penilaian otentik dengan menggunakan berbagai macam alat dan stratergi penilaian secara benar yang mencerminkan hasil belajar pembelajar sesungguhnya, misalnya tes, proyek atau tugas, portofolio, rubrik, ceklis, panduan pengamatan. Siswa diberi kesempatan untuk ikut aktif berperan serta dalam menilai pembelajaran mereka sendiri.

Menurut C-Star (University of Wshington), ada tujuh elemen pokok yang merupakan ciri utama CTL, yaitu konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), inkuiri (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), refleksi (reflection), penilaian otentik (authentic assesment). Ketujuh unsur tersebut saling terkait dan unsur kontruktivisme menjadi unsur yang utama yang menjiwai unsur-unsur yang lain.

a. Konstruktivisme (Constructivism)
Constructivism (konstruktivisme) merupakan landasan filosofis atau landasan berpikir CTL. Constructivism berpandangan bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang siap diambil atau diingat. Manusia harus menkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dalam constructivism, pembelajar perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak mampu memberikan semua pengetahuan kepada pembelajar. Pembelajarlah yang harus mengkonstruksi atau membentuk pengetahuannya sendiri. Esensi konstruktivisme adalah pembelajar harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi miliki mereka sendiri.
Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “merekontruksi pengetahuan” bukan “menerima pengetahuan”. Dalam proses pembelajaran, pembelajar membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan secara aktif dalam proses belajar-mengajar. Dalam proses pembelajaran pembelajarlah yang menjadi pusat kegiatan, bukan guru.
Struktur pengetahuan dikembangkan dalam otak manusia melalui dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi. Yang dimaksud asimilasi adalah struktur pengetahuan baru dibuat atau dibangun atas dasar struktur pengetahuan yang sudah ada. Sedangkan akomodasi adalah struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung/menyesuaikan hadirnya pengalaman ba/pengetahuan baru.
Menurut Zahorik (1995:14—22), ada 5 unsur yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran konstruktivistik:
(1) Mengaktifkan pengetahuan yang sudah ada (prior knowledge).
(2) Memeroleh pengetahuan dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu baru memperhatikan detailnya.
(3) Memahami pengetahuan dengan cara (1) menyusun konsep sementara (hipotesis), (2) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapatkan tanggapan (validasi), dan (3) merevisi dan mengembangkan konsep. Demikian seterusnya.
(4) Mempraktikkan pengalaman yang telah diperolehnya.
(5) Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.

b. Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Untuk itu, bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir pembelajar. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan kegiatan penting dalam pembelajaran berbasis inkuiri, yakni menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
Kegiatan bertanya dalam pembelajaran memiliki beberapa kegunaan, antara lain
(1) untuk menggali informasi, baik informasi administrasi maupun akademis,
(2) untuk mengecek pemahaman pembelajar,
(3) untuk membangkitkan tanggapan pembelajar,
(4) untuk mengetahui sejauhmana keinginan pembelajar,
(5) untuk mengetahui hal-hal apa saja yang diketahui sisw,
(6) untuk memfokuskan perhatian sisw pada sesuatu yang dikehendaki guru,
(7) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan pembelajar, dan
(8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan pembelajar.

c. Inkuiri (Inkuiri)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang dipeoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri. Untuk itu, guru harus selalu merancang kegiatan yang membuat pembelajar dapat menemukan. Inkuiri memiliki siklus sebagai berikut.
(1) Observasi
(2) Bertanya
(3) Mengajukan hipotesis atau dugaan
(4) Pengumpulan data
(5) Penyimpulan

d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep “learning community” menyarankan agar hasil pembelajaran yang diperoleh siswa merupakan hasil dari kerjasama dengan orang/pihak lain. Hasil belajar diperoleh dari “sharing” antarteman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Anggota masyarakat belajar tidak hanya terbatas pada orang-orang yang berada di dalam kelas saja, tetapi juga orang-orang di sekitar sekolah atau di luar sekolah. Dalam pembelajaran berbasis CTL, guru disarankan selalu menggunakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Selain itu, dalam pembelajaran, guru dapat melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang “ahli” ke kelas.

e. Pemodelan (Modelling)
Dalam pembelajaran, pengetahuan atau keterampilan tertentu membutuhkan model yang bisa ditiru. Model bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola, contoh karya tulis, cara melafalkan kata dalam bahasa, dan sebagainya.
Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan pembelajar. Seorang pembelajar bisa ditunjuk untuk memberikan contoh pada temannya tentang cara melakukan sesuatu. Model juga bisa didatangkan dari luar sekolah.

f. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir tentang apa yang sudah dilakukan pada masa lalu. Refleksi juga merupakan respon terhadap kejadian , kegiatan, atau pengetahuan yang baru diterima. Refleksi ini bagi pembelajar juga dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk, misalnya catatan atau jurnal di buku pembelajar, diskusi, atau hasil karya.

g. Penilaian Autentik (Authentic Assessment)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengindikasikan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar, guru bisa segera mengambil tindakan yang tepat. Oleh karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, assessment tidak dilakukan di akhir periode (semester) pembelajaran (semester) seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti UAS), tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi dalam pembelajaran.
Assessment menekankan pada proses pembelajaran. Untuk itu, data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan pembelajaran. Data yang demikian itu disebut data authentic.
.Dalam penilaian autentik, kemajuan belajar siswa tidak hanya dinilai dari hasil belajarnya saja tetapi juga dari proses. Demikian pula, pengetahuan, keterampilan (performansi), dan sikap yang diperoleh siswa tidak hanya dinilai oleh guru, tetapi juga oleh teman lain atau siswa lain, atau juga dirinya siswa sendiri.
Penilaian autentik memiliki karakteristik (1) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, (2) bisa digunakan untuk penilaian formatif maupun sumatif, (3) yang diukur pengetahuan dan keterampilan (performansi), bahkan sikap, (4) berkesinam-bungan, (5) terintegrasi, dan (5) dapat digunakan sebagai feed back atau umpan balik
Hal-hal yang dapat digunakan sebagai dasar penilaian otentik antara lain (1) proyek/kegiatan/tugas, (2) PR pembelajar, (3) kuis, (4) karya siswa, (5) presentasi/ penampilan pembelajar/unjuk kerja, (6) demonstrasi, (7) laporan, (8) jurnal, (9) hasil tes, dan (10) karya tulis.( SBI)

sumber : mohthamrin

0 komentar:

Poskan Komentar