DASAR-DASAR SOSIAL PENDIDIKAN | STKIP PGRI NGANJUK
Segenap Civitas Akademik STKIP PGRI Nganjuk Mengucapkan Minal Aidzin Walfaizin, Mohon Ma'af Lahir Bathin, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H.

Senin, 13 Juli 2009

DASAR-DASAR SOSIAL PENDIDIKAN

Dasar-dasar sosial sebagai suatu rumpun masalah pendidikan merupakan bidang studi sosiologi pendidikan. nama lain cabang ilmu pengetahuan adalah hubungan sekolah dengan masyarakat, yang melandaskan diri pada dasar pemikiran bahwa peranan sekolah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang cepat berubah. Dasar pemikiran tersebut akan memberikan kepada kita pengertian yang jelas tentang faktor-faktor sosial, atau sumber-sumber sosial dari problema-problema pendidikan pada saat ini, bidang studi ini juga menuntut penggunaan metode obyektif dalam menyelesaikan problema pendidikan.
Dasar pemikiran di atas dijadikan fasal-fasal dalam textbook sosiologi pendidikan, seperti aspek-aspek sosial dan pendidikan; lingkungan sosial pendidikan; sekolah sebagai sistem sosial; dan peranan sosial pendidikan. Dasar pemikiran di atas bahwa sekolah adalah lembaga sosial dan bersama-sama dengan lembaga sosial, kelompok agama, ekonomi dan politik, merupakan sistem sosial yang selalu dalam keadaan mengadakan interaksi timbal balik.
Sebagai sistem sosial segala macam lembaga sosial, dibeda-bedakan tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan, antara pendidikan dan lembaga sosial saling pengaruh mempengaruhi, sehingga perubahan dari sistem sosial akan mengharuskan perubahan penyesuaian terhadap keseluruhan sistem. Arti dan peranan salah satu lembaga sosial tidak dapat dimengerti tanpa dikaitkan dengan keseluruhan sistem sosial dari lembaga-lembaga yang diakui dan hidup berkembang dalam masyarakat.
Suatu ilustrasi lembaga sosial keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama terhadap perkembangan pendidikan dan kepribadian anak.
Lapangan kerja dan peranan sosial semakin luas dengan perkembangan industri dalam masyarakat. Jumlah dan jenis lapangan kerja semakin meningkat.
Peranan lembaga sosial di atas sebagai lembaga pendidikan dengan lembaga-lembaga sosial yang lain dari seluruh sistem sosial, seperti golongan sosial agama, perdagangan, suku bangsa, kelompok etnis, pejabat pemerintah, industriawan, cendikiawan, angkatan bersenjata, pegawai negeri serta usahawan dan golongan-golongan sosial yang lain yang masih banyak lagi.
Keterbatasan keluarga sebagai lembaga pendidikan merupakan akibat kondisi-kondisi sosiologi dengan pendapat atau pernyataan Brubacher, bahwa :
Capacity for parenthood is not by any means highly correlated with capacity for educating. Furthermore fundamental sociological condition are profoundly effecting the efficiency of the home as an educational agency.
Kemampuan untuk menjadi orang tua, sama sekali tidak sejajar dengan kemampuan untuk mendidik. Lebih dari itu, kondisi-kondisi sosiologis yang mendasar sangat menentukan efisiensi dan efektif tidaknya keluarga sebagai lembaga pendidikan.
Wajar setiap orang berhasrat untuk menjadi orang tua, selama keadaan fisik biologisnya normal. Tugas orang tua yang lebih mulia adalah mendidik anak-anak mereka. Perwujudan konsep dasar lembaga pendidikan merupakan salah satu dari sistem sosial.
Dengan semakin maju perkembangan sosial masyarakat, pendidikan dasar untuk lapangan kerja semakin lama dan membutuhkan biaya yang semakin banyak. Masalah sosial bukan masalah ekonomi, tetapi juga masalah akademis, sosiologis dan psikologis.
Perubahan kondisi-kondisi ini sebagai akibat perubahan kondisi kerja dalam industri bidang ekonomi, dengan pembagian fungsi dan deferensiasi kerja yang tajam perbedaannya. Suatu pola tata kerja membutuhkan persiapan latihan dan pendidikan yang rapih.
Perubahan dari masyarakat desa ke masyarakat kota membawa perubahan tuntutan terhadap pendidikan, sesuai dengan kondisi sosial yang berbeda-beda, dengan problema-problema pendidikan yang dihadapi dan diselesaikan. Problema pendidikan di desa luas areanya tetapi seragam, sebaliknya persoalan pendidikan di kota jenisnya banyak. Pola hidup di kota berbeda dengan pola hidup di desa, sampai pada perbedaan sikap terhadap nilai-nilai moral dan sosial dengan segala macam sangsi-sangsinya.
Relasi timbal balik antara perubahan pendidikan dengan perubahan kondisi-kondisi sosial lebih mengajukan dalil-dalil atau hukum-hukum relasi sekolah dengan masyarakat, seperti diuraikan berikut ini.
A. Hukum Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Pola dasar atau pendekatan sekolah atau pendidikan sebagai sistem sosial, suatu hal yang dikemukakan tentang hukum atau dalil-dalil hukungan sekolah dan masyarakat, yang dikemukakan oleh Wilds dan Lottich dalam sampul bukunya The Foundation of Modern Education, yaitu :
1. Perubahan lingkungan fisik, sosial, politik dan ekonomi akan menentukan atau membawa perubahan konsepsi manusia tentang pedidikan.
2. Perubahan konsepsi manusia tentang kehidupan akan menentukan atau merubah konsepsi manusia tentang pendidikan.
3. Perubahan tentang konsepsi pendidikan akan merubah konsepsi manusia tentang tujuan pendidikan.
4. Perubahan konsepsi tentang tujuan pendidikan akan merubah konsepsi manusia tentang isi-materi, susunan jenjang, organisasi dan jenis-jenis pendidikan sampai pada metodologi pendidikannya.
5. Perubahan dalam konsepsi dan tujuan pendidikan merupakan akibat, ditentukan oleh atau sebagai suatu usaha perubahan penyesuaian terhadap perubahan lingkungan-lingkungan dan tujuan hidup manusia.
Pendidikan adalah kegiatan sosial dan lembaga pendidikan merupakan lembaga sosial, perubahan sosial tidak dapat dipisahkan dan selalu merupakan sebab dari perubahan. Perubahan merupakan akibat atau hasil perubahan pengaruh dari perubahan lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan politik maupun perkembangan dalam kehidupan ekonomi dalam suatu masyarakat.
Pola hidup masyarakat telah dipersulit dengan perkembangan media komunikasi yang luar penggunaannya dan pengaruhnya. Perkembangan lingkungan sarana komunikasi telah menyebabkan dunia dan kehidupan manusia semakin terbuka, yang menyebabkan cepatnya pertukaran kebudayaan dan tempo perubahan sosial masyarakat. Arus penyebaran informasi melalui media komunikasi tidak semakin menurun, sebaliknya semakin meningkat, dan diterima tanpa seleksi, tanpa dikenai proses pengunyahan, dan bersifat negatif atau positif bagi perkembangan kepribadian anak didik.
Dua jenis perubahan lingkungan fisik teknologi telah merubah pola relasi dalam keluarga, relasi antar manusia dan pandangan tentang hidup dan penghidupan, yang baik dan benar tergantung dari sudut mana manusia mendekati atau meninjau dan cara-cara yang digunakan. Pada saat ini masyarakatdihantui oleh timbulnya gagasan baru tentang konsep pendidikan dalam tradisi kebudayaan tabu.

B. Beberapa Konsep Pendidikan
Beberapa konsepsi dapat dibagi dalam uraian di bawah ini :
1. Education is the getting and giving of knowledge so as to pass on our culture from one generation on the next.
(Pendidikan adalah kegiatan memperoleh dan menyampaikan pengetahuan, sehingga memungkinkan transmisi kebudayaan kita dari generasi yang satu kepada generasi berikutnya).
Konsep pendidikan mengangkat derajat manusia sebagai makhluk budaya, yaitu makhluk yang diberkati kemampuan untuk menciptakan nilai kebudayaan, fungsi budaya dari pendidikan adalah kegiatan melantarkan nilai-nilai kebudayaan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Pendidikan sebagai proses adalah suatu kegiatan memperoleh dan menyampaikan pengetahuan tentang kebudayaan, sedang pengetahuan adalah rumpun informasi-informasi tentang kebudayaan dengan segala segi dan aspeknya.
Konsep kebudayaan merupakan masalah pokok dalam rumus pendidikan, didefinisikan sebagai keseluruhan cara-cara bertingkah laku manusia dalam kehidupan dan penghidupannya. Rumus pengetahuan adalah keseluruhan rumpun informasi-informasi tentang cara-cara manusia bertingkah laku, dan tinggi rendahnya, lengkap tidaknya informasi yang dimiliki akan menentukan tingkah perkembangan kebudayaannya.
Aspek-aspek kebudayaan tidak disebutkan dalam rumusan konsep, tetapi pada 6 lapangan hidup, yaitu agama, sosial, politik, ekonomi, seni budaya dan ilmu pengetahuan. Sesuai dengan jumlah dan jenis lapangan hidup dan aspek-aspek kebudayaan, maka rumpun-rumpun informasi tentang cara-cara bertingkah laku dibedakan terdiri atas 6 pengetahuan, pengetahuan agama, ekonomi dan seterusnya.
2. Education is the process by which the individual is taught loyalty and conformity by which the human mind is disciplined and developed.
(Pendidikan adalah proses dengan mana individu diajar bersikap setia dan taat dengan mana pikiran manusia ditera dan dibina).
Konsep pendidikan ditekankan betapa pentingnya dan kuatnya peranan pendidikan dalam pembinaan manusia. Pendidikan sebagai proses pembinaan sikap mental dnegan jalan atau cara melatih dan mengembangkannya ke arah nilai yang diinginkan, dalam rumusan konsep yaitu nilai sikap kesetiaan dan ketaatan. Kata lain pendidikan adalah suatu kegiatan pembinaan sikap mental yang akan menentukan tingkah lakunya.
Pendidikan adalah pembentukan kebiasaan dlam masyarakat yang relative macet, paling tidak lambat tempo perkembangannya, atau dalam tata susunan kehidupan sosial yang tidak menghendaki kebebasan pendapat atau keragaman pendapat di antara anggota masyarakat. Sistem pendidikan banyak disaksikan pada negara totalitas, yang hanya mengakui satu sumber dan satu sistem kebenaran dan kenyataan, serta sistem kebudayaan tunggal, seperti negara Yunani Kuno Sparta atau negara sosialis proletar.
Dalam masyarakat yang relative statis, pola-pola tingkah lakunya relatif tetap, seluruh anggota masyarakat dituntut melestarikan bentuk-bentuk tingkah laku tersebut. Pemimpin sosial masyarakat mempertahankan pola-pola tingkah laku dengan cara-cara atau alat-alat pendidikan yang bersifat keras, seperti hukuman, disiplin, kekerasan dan pengawasan yang ketat serta sangsi sosial yang berat pula dan harus ditindak dengan sangsi sosial yang berat dank keras.
Negara totaliter monistis, yaitu sistem politik pemerintah yang segala-galanya demi kepentingan negara dan monisme kebudayaan atau kebudayaan tunggal, menetapkan bahwa pendidikan atau edukasi adalah satu dan sama dengan indoktrinasi, tujuan pendidikan membina manusia susila yang cakap diganti dengan pembinaan warganegara yang setia, taat tanpa syarat dan disiplin membaja.
Sebab ilmu pendidikan sebagai pengetahuan praktis agar menanamkan atau mengindoktrinasikan nilai atau norma-norma sesuai dengan dasar-dasar filsafat pendidikan.
3. Education is a process of growth in whuch the individual is helped to developed his power, his talents, his abilities and his interest.
(Pendidikan adalah suatu proses pertumbuhan di dalam mana individu diberi pertolongan untuk mengembangkan kekuatan, bakat kemapuan dan minatnya).
Dalam rumusan di atas aspek-aspek sifat hakekat psikologis manusia terdiri atas empat aspek, yaitu kekuatan, bakat, kemampuan dan minat kepentingannya. Konsep sifat hakekat manusia tidak dapat dilepaskan dari dasar-dasar filsafat pendidikannya.
Konsep manusia lebih dekat dengan aliran filsafat pendidikan humanisme, atau tradisional sosial.
4. Education is that reconstruction and reorganization of experiences which adds to the meaning of experiences and which increase abitily to direct the course of sub sequent experiences.
(Pendidikan adalah pembangunan kembali atau penyusunan kembali pengalaman, sehingga memperkaya arti perbendaharaan pengalaman yang dapat meningkat kemampuan dalam menentukan arah tujuan pengalaman selanjutnya).
Proses pendidikan adalah proses dari dalam diri pribadi manusia, yaitu suatu kemampuan untuk memugar dan meremajakan pengalaman sehingga memungkinkan individu secara kontinu tumbuh berkembang. Pendidikan diartikan sama dengan pertumbuhan, selama itu pula terjadi peristiwa pendidikan.
Proses pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan dengan mana akan ditananamkan kepada anak nilai norma individualisme, pluraritas, liberalitas dan novalitas, penghormatan atas perbedaan individualitas manusia.
Pola reaksi tingkah laku pemecahan masalah, yaitu tahapan atau tangga proses berpikir manusia dalam kondisi dan situasi sosial. Proses penyesuaian diri diartikan sebagai proses rekonstruksi dan reorganisasi pengalaman.
5. Education is the process by which a person is adjusted to those elements of his environment which are of concern in modern life so as to prepare his successful adult living.
(Pendidikan adalah proses dengan mana seseorang diberi kesempatan menyesuaikan diri terhadap aspek-aspek kehidupan lingkungan yang berkaitan dengan kehidupan modern untuk mempersiapkan agar berhasil dalam kehidupan orang dewasa).
Rumus pendidikan di atas adalah proses yang diawali dengan kegiatan mengantarkan seseorang mengadakan perubahan penyesuaian terhadap unsur-unsur lingkungan yang ada sangkut pautnya dengan kehidupan modern.
Dalam masyarakat tradisional yang menghormati ikatan kekerabatan keluarga yang kuat dan ketat, menuntut agar setiap anggota keluarga menjunjung nilai ketaatan, kesetiaan, penghormatan orang tua dan melestarikan tradisi yang berlaku selama ini.
Manusia modern sebagai tujuan pendidikan adalah seorang pribadi terbuka, yang mampu mengambil keputusan sendiri dalam tingkah lakunya serta berorientasi pada masa kini dan masa yang akan datang. Seorang dewasa modern tidak hanya modern dalam cara berpakaian dan bentuk-bentuk luar, tetapi yang lebih penting utama adalah sikap modern seperti memiliki pengetahuan yang luas dan berpikir bebas dalam menghadapi problema kehidupan modern yang terus timbul, banyak jenis dan rumit kaitannya.

C. Sumber-sumber Sosial Problema Pendidikan
1. Faktor-faktor sosial dari kemajuan murid
Kemajuan atau kemundurannya ditentukan oleh beberapa faktor sosial, baik yang terdapat di dalam sekolah maupun di luar sekolah seperti bakat anak, tuntutan guru, kondisi keluarga, kebudayaan, kelompok sebaya dan pribadi acuan.
Faktor kedua adalah keadaan keluarga pelajar, seperti jumlah saudara, tingkat status sosial, akademis dan ekonomis, dan pola pendidikan dalam keluarga, serta sikap orang tua terhadap pendidikan.
Faktor sosial ketiga yang menyebabkan maju mundurnya perkembangan anak di sekolah adalah faktor masyarakat kelompok sebaya dengan siapa anak-anak mengadakan kegiatan di luar sekolah dan keluarga.
Perkembangan media komunikasi massa yang pesat telah menyita waktu dan tenaga serta minat perhatian anak, yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kemajuan belajar anak di sekolah, dan muncullah faktor sosial keempat yaitu pemujaan anak pada pribadi atau tokoh sosial di luar keluarga dan sekolah anak.
Faktor sosial kelima yang menentukan adalah tinggi rendahnya dan berat ringannya bahan pelajaran yang dituntut oleh guru.
2. Faktor sosial dari kemajuan guru
Faktor bakat, minat dan kemampuan anak akan menentukan struktur susunan kelas yang dihadapi guru, dan yang akan menunjang lancar tidaknya pelaksanaan tugas pendidikan guru.
Kemajuan guru ditentukan pula oleh faktor kedua yaitu kebijaksanaan dan tuntutan serta relasi personalia administratif pendidikan dan ini meliputi kebijakan tentang pertumbuhan jabatan guru, apakah didasarkan atas masa kerja atau hasil karya mereka.
Hubungan guru dengan orang tua merupakan faktor ketiga, yang pada dasarnya tugas guru adalah memberikan pelayanan kepada keluarga atau orang tua.
3. Faktor sosial dari kemajuan sekolah
Faktor sosial yang mempengaruhi kemajuan sekolah adalah sumber-sumber dana yang tersedia dalam masyarakat dan yang disediakan bagi pembangunan sistem persekolahan.
Struktur susunan status sosial, kelas ekonomi, kelas kelompok ras dan suku bangsa adalah faktor kedua yang menentukan kemajuan sekolah.
Faktor yang ketiga adalah keadaan stabil atau lebih penghuni suatu daerah tertentu, pengelolaan sistem sekolah yang baik atau tidak, dan terutama pada lembaga pendidikan sekolah menengah atas ke bawah, yaitu terdapat tidaknya lembaga pendidikan guru di sekitar daerah di mana sekolah didirikan.

0 komentar:

Poskan Komentar